Fuad, Pemuda Tuna Netra Yang Hafal Al-Quran dan Guru di Magelang

Spread the love

“Tidak perlu menyesali apapun pada diri kita, karena semua diciptakan Allah dengan sempurna.”  Demikian pesan Muhammad Fuad Gufron (27) yang sebenarnya mengingatkan dirinya untuk tetap semangat dalam menjalani hidup. Fuad tidak pernah menyesal dengan keadaanya  tidak bisa melihat sejak lahir. Ini menjadi motivasi baginya untuk berprestasi. Fuad adalah seorang guru di Sekolah Luar Biasa Ma’arif (SLB), Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Setiap hari, pemuda ini mengabdikan dirinya untuk mendidik anak-anak tunanetra di sekolah. Ia mengajar mata pelajaran agama Islam, Pendidikan Seni dan Budaya. “Untuk Ramadhan kami belajar mulai pukul 7.30 WIB hingga 12.00 WIB. Saya mengajar di kelas tunanetra, mengajar tentang Islam, seni dan budaya,” kata Fuad, kepada Kompas.com saat berkunjung ke sekolahnya belum lama ini.

Fuad dikenal sebagai pemuda berprestasi. Sejak usia sekolah dasar, ia sudah pandai menulis, membaca, dan menghafal Alquran. Prestasi ini tentunya menjadi hal yang lumrah bagi anak dengan kondisi normal. Tapi khusus bagi Fuad yang buta Saya belajar membaca Al Quran dengan huruf braile sejak sekolah di SLB Yaketunis Yogyakarta. Sekolah ini memang khusus untuk penyandang tuna netra,”   ujarnya. Tak lama setelah lulus dari Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2014, Fuad berkesempatan mengadakan umroh gratis yang didanai oleh perusahaan provider. Kesempatan ini tak lain karena kemampuannya menghafal Al Quran saat itu. “Jadi dulu ada provider yang memberikan CSR berupa Umroh gratis bagi penyandang tunanetra yang hafal Alquran. Saya diajak oleh senior saya untuk memilih dan akhirnya diterima,” kata Fuad yang saat itu berprofesi sebagai seorang guru di Pondok Pesantren Nurul Azmi, Gejayan, Yogyakarta. Fuad mengaku tidak menghafal Alquran secara spesifik, melainkan otodidak. Biasanya dia hapal antara sekolah dan aktivitas mengajar. Meski diakuinya belum hapal semua juz dalam Al Quran. Kemampuannya untuk menghafal kitab suci disempurnakan oleh kemampuannya menggunakan vokal. Fuad memenangkan beberapa lomba mengaji dan menyanyi. Padahal, semasa sekolah Fuad punya grup vokal khusus yang menyanyikan lagu-lagu religi (nasyid). Putra dari Masrifatullaily (47) dan Muhammad Hadis (58) ini juga pandai memainkan gitar, organ, flute, harmonika dan pianika. Ia mengajarkan alat musik tersebut kepada siswanya di SLB Maarif. “Saat saya nyanyi, dari SD saya suka. Saya sering mengikuti festival, diajak mengikuti acara. Seperti nyanyi di peresmian Gedung ESQ Jakarta, dan lain-lain,” ujar warga Dusun Keditan, Desa Keditan. , Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Tidak hanya itu, Fuad juga kerap mengisi kegiatan-kegiatan sosial masyarakat di sela-sela mengajar. Fuad mengaku tidak pernah meminta fasilitas apapun saat menghibur masyarakat. Sejatinya dia mempunyai misi ingin mendekatkan dan menggugah masyarakat bahwa penyandang disabilitas layak sejajar dengan orang pada umumnya. “Kalau dapat order nyanyi, saya cuma minta disediakan sound system, itu saja. Selebihnya saya, atau terserah panitia. Karena saya ingin mengenalkan difabel. Masyarakat sering bingung memperlakukan kaum kami, ada yang khawatir jika kami tersinggung atau bagaimana. Padahal kami biasa saja,” paparnya. Fuad juga mengisahkan ketika dirinya mengalami diskriminasi dari orang-orang di sekitarnya. Dahulu ketika masih sekolah, Fuad kerap juara I lomba menyanyi tapi tidak pernah maju ke jenjang lebih tinggi dengan alasan dia tuna netra. “Dulu yang dikirim mewakili sekolah ke tingkat kota atau provinsi selalu pemegang Juara II, yang tidak tuna netra. Saya cukup di tingkat sekolah. Saya pernah protes sampai akhirnya kami (tuna netra) berhak ikut kompetisi yang lebih tinggi,” tuturnya. Pendidikan Karakter Dia bertekad, segala bentuk ketidakadilan yang pernah dialaminya tidak akan terjadi pada anak didiknya.

Pola pengajaran yang diterapkan lebih kepada penanaman karakter dimana anak didik diajarkan kejujuran, disiplin, dan hormat pada orangtua, serta mencintai alam. Dengan demikian, mereka tidak lagi diremehkan oleh orang lain. Anak didik juga dibebaskan untuk berekspresi sesuai minat dan bakatnya. “Kami lebih banyak praktek, teori sedikit. Karena mendengar itu justru membutuhkan energi lebih besar, anak akan bosan. Kalau pelajaran shalat ya langsung shalat. Jadi murid lebih mudah menangkap,” jelasnya. Sulung dari tiga bersaudara ini bercita-cita pendidikan di Indonesia, khususnya SLB, lebih mementingkan karakter tidak sekadar tekstual. Dia pun mengutarakan penyandang disabilitas juga berhak atas pendidikan layak dan setinggi-tingginya. Akhir 2016 lalu, Fuad baru saja pulang dari Bali setelah mengikuti International English Language Testing System. Kegiatan tersebut merupakan syarat mendapatkan beasiswa Australia Award Schoolarship, yang akan diumumkan Juni 2017.

Tahun lalu, Fuad ikut program beasiswa ini namun gagal karena keterampilan bahasa Inggrinya kurang. Fuad mengungkapkan, memang akses belajar bahasa asing untuk kaum disabilitas masih minim di Indonesia. “Kami masih kurang mendapat informasi beasiswa atau pendidikan lainnya. Tapi itu bukan halangan kami untuk belajar. Semoga saya lolos seleksi beasiswa ke Australia, saya ingin buktikan tuna netra mampu dan sejajar dengan orang-orang pada umumnya,” tandasnya. Kepala SLB Maarif Muntilan, Suyadi (59) menuturkan, Fuad merupakan guru yang punya peran bagus baik di sekolah maupun lingkungan sekitarnya. Menurutnya, Fuad adalah guru yang berprestasi meski dia sendiri tuna netra. “Dia anak muda yang aktif, di sekolah maupun lingkungannya. Bagus cara mengajarnya untuk anak-anak,” pungkasnya. Lihat artikel asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *